FORUM KOMUNIKASI THL JABAR

Blog

Makalah Pemupukan Berimbang

Posted by fkthljabar on May 17, 2008 at 4:05 AM
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Program revitalisasi pertanian yang digulirkan oleh Presiden Susilo
Bambang Yudoyono salah satu tujuannya adalah mewujudkan ketahanan
pangan nasional. Salah satu upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional
adalah dengan meningkatkan produktifitas padi. Peningkatan
produktifitas tersebut di jabarkan dengan program peningkatan beras 2
juta ton pada tahun 2007 dan selanjutnya meningkat 5 % per tahun
hingga tahun 2009.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi padi nasional
salah satunya adalah efisiensi penggunaan masukan yang berkaitan
secara langsung dengan peningkatan pendapatan petani dan kelestarian
lingkungan. Sejak tahun 1960-an, kebutuhan pupuk di sektor pertanian
terus meningkat karena semakin luasnya lahan yang perlu dipupuk serta
naiknya takaran pemakaian pupuk per satuan luas. Penetapan rekomendasi
takaran pemupukan yang bersifat nasional dinilai sudah kurang relevan
karena berbagai faktor seperti kaitannya dengan kompetensi metode uji,
daya dukung lahan, dan kebutuhan tanaman akan hara yang beragam. Serta
kondisi kesuburan tanah antar wilayah atau bahkan antar lokasi dalam
suatu wilayah yang berbeda (Balai penelitian Tanaman Padi, 2003)
Rekomendasi pemupukan padi sawah saat ini masih bersifat umum,
sehingga pemupukan belum rasional dan belum berimbang. Sebagian petani
menggunakan pupuk tertentu dengan dosis berlebihan, dan sebagian
lainnya menggunakan pupuk dengan dosis yang lebih rendah dari
kebutuhan tanaman sehingga produksi padi tidak optimal akibat
ketidakseimbangan hara di dalam tanah (Fagi dan Makarim, 1990 dan
Ponnamperuma, 1977 dalam Suwono., dkk., 2007) .
Sebelum tahun 1989 produktifitas padi di Jawa Barat mengalami
peningkatan 6.2 % per tahun. Pada periode 1989 ? 2000 peningkatan
produksi padi rata-rata 0.03 % dan pada tahun 1997 mengalami penurunan
yang ditandai dengan adanya impor beras lebih dari 4 juta ton. Salah
satu faktor penyebab menurunkan tingkat produktifitas ini adalah
penggunaan pupuk anorganik yang tidak efisien serta terjadinya
degradasi lahan ( Surdianto dan Diratmaja, 2002)
Alokasi Pupuk bersubsidi subsektor Tanaman Pangan untuk propinsi Jawa
Barat pada tahun 2007 masing-masing untuk Urea, SP-36, ZA dan NPK
adalah 474.500 ton; 74.395 ton; 40. 425 ton; 63.655 ton (Lampiran
Permentan No 66/Permentan/OT.140/12/2006). Pupuk bersubsidi yang telah
di alokasikan oleh pemerintah pada kenyataannya belum mampu memenuhi
kebutuhan petani. Selain distribusi, faktor pemupukan yang berlebihan
oleh petani menjadi penyebab utama sering tidak mencukupinya pupuk
bersubsidi bagi petani. Kelangkaan pupuk saat musim tanam tiba tidak
perlu terjadi apabila petani menggunakan pupuk secara berimbang.
Pemupukan yang tidak memenuhi 5 Tepat yaitu Tepat jenis pupuk ; Tepat
dosis pemupukannya; Tepat waktu pemupukannya; Tepat komoditi yang
dipupuknya; dan Tepat cara pemupukannya merupakan penyebab
terjadinya degradasi lahan.
Menurut Setyorini (2004) pemupukan harus didasarkan pada jenis tanah
tempat bercocok tanam, jenis tanaman yang ditanam, jenis pupuk yang
digunakan, dosis pupuk yang digunakan, waktu pemupukan serta cara
pemupukan. Dengan demikian penggunaan pupuk anorganik secara berimbang
tetap diperlukan untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian
namun tetap memperhatikan produktifitas dan kesuburan tanah.

1.2. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan beberapa permasalahan
sebagai berikut :
1. Penggunaan pupuk N, P dan K yang belum mempertimbangkan kebutuhan
hara oleh tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah.
2. Penentuan kandungan hara dalam tanah dan jumlah hara yang
dibutuhkan tanaman memerlukan perangkat uji tertentu.
3. Penerapan konsep pemupukan berimbang menggunakan perangkat uji
berupa bagan warna daun (BWD) untuk penentuan kebutuhan N dan
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk menentukan kebutuhan hara P dan
K belum merata di kalangan petani.

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penulisan ini adalah :
1. Memberikan informasi mengenai pentingnya penerapan teknologi
pemupukan berimbang untuk meningkatkan produksi padi tanpa menimbulkan
terjadinya degradasi lahan pertanian.
2. Memberikan informasi mengenai penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk mengetahui kebutuhan Nitrogen
dan mengetahui kandungan hara P dan K sebagai acuan dalam menentukan
takaran pemupukan N, P, dan K pada padi sawah sehingga konsep
pemupukan berimbang dapat diterapkan oleh para petani.


BAB II
LANDASAN PEMIKIRAN

Sebagaimana diketahui tanah merupakan kumpulan benda alam yang
tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral,
bahan organik, air dan udara serta merupakan media tumbuhnya tanaman
(hardjowigeno, 1995). Tanah merupakan benda alam yang dinamis,
sehingga pemanfaatan tanah untuk pertanian perlu memperhatikan tingkat
kesuburan dan produktifitasnya.
Adiningsih (2004) menyebutkan kesuburan tanah merupakan kapasitas
inherent tanah untuk menyediakan hara dalam jumlah yang cukup dan
dalam proporsi yang sesuai. Adapun produktifitas tanah merupakan
kemampuan tanah untuk menghasilkan tanaman. Upaya peningkatan hasil
pertanian tanpa memperhatikan keadaan tanah akan menyebabkan tingkat
kesuburan tanah menurun, sehingga produktifitas tanahpun berkurang
yang menyebabkan produktifitas hasil pertanian menurun (Sarief, 1984).
Penggunaan pupuk secara berimbang menjadi salah satu solusi untuk
mengatasi kendala peningkatan produktifitas padi di Jawa Barat dan
kabupaten Bandung pada khususnya. Pemupukan secara berimbang selain
menghemat biaya pemupukan juga membantu menyehatkan tanah sawah yang
mengalami kelelahan (Soil fatigue).
Penggunaan tanah untuk pertanian akan mengakibatkan terangkutnya unsur
hara oleh tanaman saat panen, erosi, mengalami pencucian, serta
aliran permukaan (run off). Pengangkutan unsur hara akibat pemanfaatan
tanah untuk pertanian menyebabkan adanya siklus hara yang dapat
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. Siklus Hara dalam Tanah

Pemupukan berimbang merupakan salah satu faktor kunci untuk
memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian, khususnya
di daerah tropika basah yang tingkat kesuburan tanahnya relatif rendah
karena tingginya tingkat pelapukan dan pencucian hara. Pembatas
pertumbuhan tanaman yang umum dijumpai adalah rendah-nya kandungan
hara di dalam tanah, terutama hara makro N, P dan K. Untuk mengatasi
hal tersebut, pupuk perlu diberikan dalam jenis dan jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanah (uji tanah).
Setyorini (2004) menyebutkan pemupukan berimbang merupakan pemberian
pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara sesuai dengan
tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil
yang optimal. Pemupukan berimbang merupakan pola pemupukan yang
mengacu kepada keseimbangan antara unsur hara yang dibutuhkan tanaman
berdasarkan sasaran tingkat hasil yang ingin dicapai dengan
ketersediaan hara dalam tanah (IRRI, 2006).
Pemupukan berimbang merupakan pola pemupukan yang spesifik lokasi,
dapat meningkatkan daya guna dan hasil guna pupuk, mudah dan murah
dilakukan. Untuk mengetahui tingkat keseimbangan pemupukan yang
dilakukan perlu diketahui dulu ketersediaan hara dalam tanah serta
hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin
dicapai.
Untuk menerapkan penggunaan pupuk secara berimbang dibutuhkan alat
yang dapat membantu mengetahui kebutuhan hara tanaman dan kapasitas
hara dalam tanah. Pusat Penelitian Tanah saat ini telah memperkenalkan
penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) atau Leaf Color Chart (LCC) untuk
menentukan kebutuhan pupuk Nitrogen pada padi sawah. Takaran Pemupukan
P dan K dapat dilakukan berdasarkan uji tanah menggunaan Perangkat Uji
Tanah Sawah (Paddy Soil Test Kit).

BAB III
PEMBAHASAN


3.1 Pemupukan N Berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD)
Tanaman padi sangat respon terhadap unsur Nitrogen, karena unsur
Nitrogen merupakan faktor pembatas yang paling penting dibandingkan P
dan K dalam meningkatkan produktifitas padi sawah. Hal ini sesuai
dengan Hukum Minimum Liebig's yang menyebutkan bahwa :
 Produksi tanaman dibatasi oleh ketersediaan hara dalam tanah yang
paling minimum.
 Jika hara yang kurang tergolong hara utama, maka produksi akan
semakin rendah

Gambar 2. Hukum Minimum Liebig's

Penggunaan pupuk urea oleh petani melebihi 400 Kg/ha, sedangkan dosis
yang dianjurkan hanya 250 ? 300 Kg/ha atau setara dengan 115 ? 138
Kg/ha Nitrogen (Taslim, 2004). Penggunaan Urea yang berlebihan
tersebut dimaksudkan oleh petani untuk memperoleh pertumbuhan padi
yang baik. Padahal penggunaan pupuk urea yang berlebih selain
merupakan pemborosan juga menyebabkan tanaman peka terhadap penyakit
dan mudah rebah serta merusak kesehatan tanah
Penggunaan pupuk Nitrogen secara intensif menyebabkan terjadinya
penurunan kadar C-organik dalam tanah. Hasil beberapa penelitian di
sentra penanaman padi, kadar C-organik dalam tanah di Jawa Barat pada
umumnya sudah rendah (< 2 %). Kandungan C-Organik < 2 % merupakan
kategori tanah sakit. Pada kondisi tersebut tanah mengalami titik
jenuh (Levelling Off), sehingga penggunaan pupuk dengan meningkatkan
dosis tidak akan meningkatkan produktifitas padi, namun sebaliknya
akan semakin menurunkan kualitas dan kesehatan tanah (Simarmata, 2007).
Penggunaan pupuk N sudah seharusnya dilakukan dengan cara berimbang
sesuai dengan kebutuhan hara tanaman dan kondisi tanah setempat. Untuk
meningkatkan manfaat penggunaan pupuk N perlu dilakukan cara pemupukan
yang lebih efisien. Salah satu teknik yang sederhana yaitu menggunakan
bagan warna daun (BWD) atau Leaf Colour Chart (LCC).
Bagan warna daun (BWD) merupakan alat untuk mengetahui kecukupan
Nitrogen bagi tanaman. Bentuk BWD persegi panjang yang terdiri dari 4
kotak skala warna mulai dari hijau muda hingga hijau tua.\
Gambar 2. Bagan Warna Daun (BWD) atau Leaf Colour Chart (LCC).

Penentuan waktu pemupukan N berdasarkan BWD bisa dengan dua cara bisa
dengan waktu tetap (fixed time) yaitu waktu pemupukan ditetapkan lebih
dulu berdasarkan fase pertumbuhan tanaman, yaitu pada fase anakan
aktif dan saat pembentukan malai atau masa primordial. Adapun nilai
pembacaan BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk yang telah
ditetapkan sehingga lebih sesuai dengan dengan kondisi tanaman.
Cara kedua berdasarkan pembacaan BWD yang sebenarnya (riil time),
yaitu pembacaan BWD dilakukan mulai umur tanaman 25-28 HST dan
selanjutnya secara periodik 7-10 hari sekali sampai masa primordial,
hingga diketahui nilai kritis sehingga pupuk N perlu segera diberikan.
Cara penggunaan BWD berdasarkan waktu yang ditetapkan (Fixed Time)
adalah sebagai berikut :
1. Sebelum umur padi 14 Hari Setelah Tanam (HST) pupuk Urea diberikan
50-75 Kg/ha sebagai pupuk dasar, pada periode ini BWD tidak perlu
digunakan.
2. Pada waktu pemupukan ke dua ( tahap anakan aktif 23-28 HST) dan
ketiga ( tahap primordial 38-42 HST) bandingkan warna daun dengan
skala BWD.
3. Pilih 5 ? 10 rumpun tanaman sehat secara acak pada hamparan yang
seragam. Kemudian pilih daun teratas yang sudah membuka penuh pada
satu rumpunnya.
4. Pada saat mengukur warna daun jangan menghadap sinar matahari,
karena akan mempengaruhi hasil pengukuran. Serta diupayakan pengukuran
dilakukan pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama pula.
5. Taruh bagian tengah daun diatas BWD lalu bandingkan warnanya , bila
warna daun berada pada skala 3 atau kurang berikan urea 75 Kg/ha bila
target hasil 5 t/ha GKG. Untuk setiap kenaikan target 1 ton tambahkan
urea 25 Kg/ha
6. Bila warna daun menunjukkan skala 4, maka berikan 50 kg Urea/ha
untuk target hasil 5 t/aha GKG. Bila target hasil dinaikkan 1 ton maka
pemberian urea di tambahkan 25 Kg/ha.
7. Bila warna daun menunjukkan skala 4 atau lebih, tanaman tidak perlu
diberi pupuk N untuk target hasil 5-6 t/ha GKG. Bila target hasil di
atas 6 t/ha tambahkan urea 50 Kg/ha.
Tabel 1. Penentuan Waktu Aplikasi dan dosis pemupukan N sesuai skala
warna daun dengan menggunakan BWD berdasarkan waktu yang ditetapkan*
Pemupukan
Dasar ke-1
(Sebelum 14 HST) Target Hasil
Kg/ha GKG Skala BWD Waktu dan Takaran Pemupukan Susulan Berdasarkan BWD
Pemupukan
Ke 2
( 23-28 HST) Pemupukan
Ke 3
(38-42 HST)
Urea (Kg/ha) Urea (Kg/ha)
50-75
Kg/ha Urea
5 t/ha BWD &#8804; 3 50 25
BWD = 4 25 25
BWD &#8805; 4 0 0

6 t/ha BWD &#8804; 3 75 25
BWD = 4 50 25
BWD &#8805; 4 0 0

7 t/ha BWD &#8804; 3 100 25
BWD = 4 75 25
BWD &#8805; 4 50 0

8 t/ha BWD &#8804; 3 125 25
BWD = 4 100 25
BWD &#8805; 4 50 0
* Sumber : Petunjuk Penggunaan Bagan Warna Daun (Balai Pengkajian
dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 2006)

Adapun cara penggunaan BWD berdasarkan waktu yang sebenarnya (riil
Time) adalah sebagai berikut :
1. Pupuk N diberikan sebelum tanaman berumur 14 HST dengan dosis 50-75
Kg/ha
2. Pengukuran tingkat kehijauan daun dimulai saat tanaman berumur
35-28 HST, dan dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali hingga masa
primordial. Adapun untuk tanaman padi hybrida dan padi tipe baru
pengukuran dilakukan hingga tanaman sudah berbunga 10 %.
8. Pilih 5 ? 10 rumpun tanaman sehat secara acak pada hamparan yang
seragam. Kemudian pilih daun teratas yang sudah membuka penuh pada
satu rumpunnya.
9. Taruh bagian tengah daun diatas BWD lalu bandingkan warnanya , bila
warna daun berada diantara 2 skala gunakan nilai rata-ratanya misalnya
3,5 untuk skala 3 dan 4. Pada saat mengukur warna daun jangan
menghadap sinar matahari, karena akan mempengaruhi hasil pengukuran.
Serta diupayakan pengukuran dilakukan pada waktu yang sama dan oleh
orang yang sama pula.
10. Jika dari 10 daun yang di amati lebih dari 5 daun menunjukkan
warna daun dalam batas kritis (< 4) maka tanaman perlu segera diberi
pupuk N dengan takaran :
- 50 -75 Kg/ha urea pada musim hasil rendah
- 75 ? 100 Kg/ha Urea pada musim hasil tinggi
- 100 Kg/ha urea untuk padi hybrida dan padi tipe baru baik pada musim
hasil rendah maupun musim hasil tinggi
- 50 Kg/ha Urea sebagai tambahan bila nilai warna daun padi hybrida
dan padi tipe baru pada saat tanaman keluar malai dan 10% berbunga
berada pada skala 4 atau kurang.


Tabel 2. Takaran Pupuk N yang diperlukan bila warna daun di bawah
nilai kritis (skala < 4) dengan pengukuran BWD berdasarkan kebutuhan
riil tanaman*
Pembacaan BWD Target Hasil
(t/ha) GKG Pemupukan Dasar
Sebelum 14 HST
(Urea Kg/ha) Pemupukan Susulan Berdasarkan BWD
(Urea Kg/ha)**
Skala < 4

5 t/ha
50-75
50
6 t/ha 75
7 t/ha 100
8 t/ha 125
* Sumber : Petunjuk Penggunaan Bagan Warna Daun (Balai Pengkajian
dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 2006)

** Diberikan Apabila pengukuran BWD di bawah skala 4, pengukuran
dimulai pada umur 25-28 HST dan berakhir 50 HST dengan selang 7-10
hari sekali
Penggunaan BWD dalam menentukan dosis pemupukan N dapat menghemat
penggunaan pupuk dengan tidak mengurangi produktifitas hasil tanaman
padi. Hasil penelitian menunjukkan pemupukan N berdasarkan BWD lebih
efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh waktu dan dosis pupuk N
yang memberikan hasil optimum pada tanaman padi, karena menghemat
pupuk sebesar 30 Kg/ ha N ( 33.3 %) dari dosis anjuran dengan takaran
90 Kg/ha N (Surdianto et. Al., 1999). Abdulrachman et.al., (2001)
dalam Wahid et. al. (2003) melaporkan bahwa pemberian pupuk N
berdasarkan BWD dapat menghemat pupuk urea 30-40 %.

3.2. Penentuan Takaran P dan K berdasarkan Analisa Tanah Menggunakan
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)

Dosis rekomendasi penggunaan pupuk P dan K hingga saat ini masih
bersifat umum berkisar 100 ? 150 Kg/ha SP-36 dan 50 ? 100 Kg/ha KCl.
Dosis anjuran pemupukan P dan K tersebut kurang tepat karena tidak
mempertimbangkan kandungan hara P dan K dalam tanah setempat,
sementara tanah-tanah sawah antar wilayah bahkan dalam satu wilayah
memiliki kandungan hara P dan K yang berbeda-beda tergantung
intensitas pemupukannya dan jenis tanahnya, sehingga tiap lahan sawah
memerlukan dosis pemupukan P dan K yang berbeda pula (Surdianto dan
Diratmaja, 2002)
Peta status hara P dan K memberikan informasi mengenai lahan-lahan
sawah yang berstatus P dan K rendah, sedang dan tinggi, sehingga dapat
dijadikan acuan pemupukan P dan K spesifik lokasi. Pemupukan P dan K
yang mempertimbangkan kandungan hara tanah setempat dapat menghemat
penggunaan pupuk P dan K dalam hal ini SP-36 dan KCl yang harganya
meningkat dan ketersediaaan saat musim tanam pun tidak terjamin.
Selain itu pemupukan P dan K yang mempertimbangkan kandungan hara
tanah dapat mempertahankan kesuburan lahan sehingga produktifitasnya
dapat bertahan lama.
Penetapan dosis pupuk berdasar uji tanah membutuhkan data status N, P,
dan K tanah yang ditetapkan sebelum mulai tanam. Alat yang
dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanah yaitu Perangkat Uji Tanah
Sawah (PUTS) bermanfaat untuk menetapkan status hara tanah yang dapat
digunakan untuk menetapkan rekomendasi pupuk P dan K untuk padi sawah.
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan alat bantu analisis kimia
untuk penetapan unsur pH, Nitrat (NO3+), Amonium (NH4-), fosfor (P),
kalium (K) dan kebutuhan kapur langsung dilapangan dengan relatif
cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. Perangkat Uji Tanah Sawah ini
diharapkan mampu membantu petani meningkatkan ketepatan pemberian
dosis pupuk N, P, dan K untuk padi sawah varietas setara IR-64 dengan
potensi hasil 5-7 t GKG/ha. Dengan menggunakan alat ini, status hara
tanah sawah dapat ditentukan di lapangan dan rekomendasi pupuk
ditetapkan sesuai yang dibutuhkan tanaman. (Balai Penelitian Tanah, 2005)
Prinsip kerja PUTS adalah mengukur kadar hara N, P, dan K tanah dalam
bentuk tersedia, yaitu hara yang larut dan atau terikat lemah dalam
kompleks jerapan koloid tanah. Kadar atau status hara N, P, dan K
dalam tanah ditentukan dengan cara mengekstrak dan mengukur hara
tersedia di dalam tanah. Oleh karena itu, pereaksi atau bahan kimia
yang digunakan dalam alat uji tanah ini terdiri atas larutan
pengekstrak dan pembangkit warna. Bentuk hara yang diekstrak dengan
PUTS untuk nitrogen adalah NO3-N dan NH4-N, untuk fosfat adalah
orthophosphate (PO43-, HPO4=, dan H2PO4 -) dan kalium adalah K+.
Pengukuran kadar hara dilakukan secara semi kuantitatif dengan metode
kolorimetri (pewarnaan).
Hasil analisis N, P, dan K tanah selanjutnya digunakan sebagai
kriteria penentuan rekomendasi pemupukan N, P, dan K spesifik lokasi
untuk tanaman padi sawah dengan produktivitas setara IR64. Pengukuran
status P dan K dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Rendah, Sedang
dan Tinggi. Dari masing-masing kelas status P dan K tanah sawah dibuat
acuan pemupukan P berupa pupuk SP-36 dan K berupa pupuk KCl (Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian- Departemen Pertanian RI, 2006)

3.2.1. Kadar P dalam Tanah
Unsur fosfor merupakan hara makro utama yang dibutuhkan tanaman.
Fosfor berperan penting dalam sintesa protein, pembentukkan bunga,
buah dan biji serta mempercepat pemasakan. Kekurangan P dapat
menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, anakan sedikit, lambat
pemasakan dan produksi tanaman rendah (Hardjowigeno, 1995)
Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang
berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit).
Unsur P dalam tanah tidak bergerak (immobile), P terikat oleh liat,
bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang pHnya rendah
(tanah masam dengan pH 4-5,5) dan oleh Ca pada tanah yang pH-nya
tinggi (tanah netral dan alkalin dengan pH 7-8). Tanah mineral yang
disawahkan pada umumnya mempunyai pH netral 6 antara 5,5-6,5 kecuali
untuk tanah sawah bukaan baru, sehingga ketersediaan P tidak menjadi
masalah.


Tabel 6. Identifikasi defisiensi dan kecukupan hara P melalui
analisis tanaman pada padi sawah*
Stadium Pertumbuhan Bagian Tanaman Kadar P
Defisiensi (%) Kecukupan (%)
Anakan-Primordia Daun < 0.01 0.2-04
Pembungaan Daun Bendera < 0.18 0.2-03
Pemasakan Jerami < 0.06 0.1-0.15
* Sumber : Sri Adiningsih dalam Makalah Pelatihan Pemupukan Berimbang
dan Pengenalan Perangkat Uji Tanah Sawah , Lembaga Pupuk Indonesia, 2004


Akibat pemupukan fosfat (P) dalam jumlah besar dan kontinyu di tanah
sawah intensifikasi selama bertahun-tahun, telah terjadi timbunan
(akumulasi) fosfat di dalam tanah. P tanah yang terakumulasi ini dapat
digunakan kembali oleh tanaman apabila reaksi tanah mencapai kondisi
optimal pelepasan P tersebut. Kebutuhan tanaman akan hara P dapat
dipenuhi dariberbagai sumber antara lain TSP, SP-36, DAP, P-alam, NPK
yang pada umumnya diberikan sekaligus pada awal tanam. Agar pupuk yang
diberikan efisien, pupuk P harus diberikan dengan cara, waktu,serta
takaran yang tepat jumlah dan jenisnya (Balai Penelitian Tanah, 2005)



Penetapan status P tanah
1. Sebanyak ? sendok spatula contoh tanah uji atau 0,5 cm tanah yang
diambil dengan syringe (spet) dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
2. Tambahkan 3 ml Pereaksi P-1, kemudian diaduk sampaihomogen dengan
pengaduk kaca,
3. Tambahkan 5-10 butir Pereaksi P-2, dikocok 1 menit,
4. Diamkan selama + 10 menit,
5. Bandingkan warna biru yang muncul dari larutan jernih dipermukaan
tanah dengan bagan warna P tanah.
Rekomendasi pupuk SP-36 (kg/ha) untuk padi sawah varietas setara IR-64
atau yang mempunyai potensi hasil 5-7 t GKG/ha pada status P tanah
Rendah, Sedang, dan Tinggi ditetapkan dalam table 7 berikut:

Tabel 6. Acuan Dosis Pemupukan P (SP 36 Kg/ha) Pada Padi Sawah*
Kelas Status Hara P tanah Kadar Hara terekstrak HCl 25%
(mg P2O5/100gr) Dosis Acuan Pemupukan P (Kg SP-36/ha)
dengan potensi hasil
5 t/ha 6 t/ha
Rendah
< 20 100 125
Sedang
20-40 75 100
Tinggi
>40 50 75
Jika yang ditanam adalah padi hibrida atau Vatietas Unggul Tipe Baru
(VUTB) dengan potensi hasil sebesar > 7 t GKG/ha maka rekomendasi
pupuk SP-36 harus dikalikan dengan faktor koreksi sebesar 1,2 (dengan
asumsi potensi hasil padi hibrida atau VUTB 20% lebih tinggi dari
Varietas Unggul Biasa /VUB).

* Sumber : Petunjuk Penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah, Balai
Penelitian Tanah, 2005

Pupuk SP-36 diberikan satu kali sebagai pupuk dasar sesuai dengan
status hara P dalam tanah yang telah diuji menggunakan Perangkat Uji
Tanah Sawah (PUTS) dan disesuaikan dengan target hasil yang ingin
dicapai, dimana tiap peningkatan target 1 ton tambahahkan SP-36 25
Kg/ha dari dosis anjuran berdasarkan pembacaan kandungan hara P tersebut.

3.2.2. Kadar K dalam Tanah
Kalium sebagai salah satu unsur hara makro dibutuhkan tanaman dalam
proses tranportasi hasil-hasil asimilasi atau proses fotosintesa di
daun kebagian-bagian tanaman lainnya (akar, tunas/anakan, biji/gabah)
mengatur tekanan osmose (turgor), memperkuat dinding sel sehingga
dapat meningkatkan daya tanah terhadap penyakit. Unsur Kalium juga
merupakan aktivator enzym pada seluruh proses metabolisme tanaman,
menunda penuaan (senescence) daun, meningkatkan jumlah gabah bernas
dan menurunkan kehampaan.
Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak),
proses pengangkutan hara, pernafasan, danfotosintesis terganggu, yang
pada akhirnya mengurangi produksi. Defisiensi unsur Kalium disebabkan
oleh Pemupukan K kurang, jerami yang terangkut saat panen tidak
dikembalikan ke lahan sawah, sumbangan K dari air irigasi rendah,
efisiensi pemupukan K rendah karena fiksasi K oleh mineral liat tipe
2:1 atau tanah berpasir sehingga K tercuci kelapisan bawah karena K
sangat mobil, serta keadaan lingkungan perakaran yang sangat reduktif,
dan ratio Ca/K atau Mg/K yang tinggi dalam larutan tanah, sehingga Ca
atau Mg menekan serapan K.(Adiningsih, 2004)

Tabel 7. Identifikasi defisiensi dan kecukupan hara K melalui
analisis tanaman pada padi sawah*
Stadium Pertumbuhan Bagian Tanaman Kadar K
Defisiensi (%) Kecukupan (%)
Anakan-Primordia Daun < 1,5 1,8 ? 2,6
Pembungaan Daun Bendera < 1,2 1,4 ? 2,0
Pemasakan Jerami < 1,2 1,5 ? 2,0
* Sumber : Sri Adiningsih dalam Makalah Pelatihan Pemupukan Berimbang
dan Pengenalan Perangkat Uji Tanah Sawah , Lembaga Pupuk Indonesia, 2004

Kalium (K) dalam tanah bersumber dari mineral primer tanah (feldspar,
mika, vermikulit, biotit, dll), dan bahan organik sisa tanaman. Kalium
dalam tanah mempunyai sifat yang mobile (mudah bergerak) sehingga
mudah hilang melalui proses pencucian atau terbawa arus pergerakan
air. Selain itu tanaman menyerap K dalam jumlah berlebih dan kelebihan
K akan difiksasi. Berdasarkan sifat tersebut, efisiensi pupuk K
biasanya rendah, namun dapat ditingkatkan dengan cara pemberian 2-3
kali selama pertumbuhan tanaman.
Pengembalian K dalam bentuk pupuk untuk mengganti K yang hilang akibat
terangkut tanaman dan tercuci tidak selalu benar karena cadangan K
dalam tanah cukup tinggi. Penambahan pupuk K dilakukan bila bentuk K
yang lambat tersedia tidak terdapat dalam jumlah yang cukup. Selain
itu pengembalian sisa tanaman/hewan sangat penting untuk
mempertahankan K tanah seperti jerami padi untuk mengganti tingginya
unsur hara K yang terangkut tanaman saat panen.
Penggunaan pupuk K juga perlu memperhatikan kebutuhan hara K yang
diperlukan untuk produksi tanaman. Pada tanah dengan mineral liat tipe
2:1 yang mengandung liat tinggi dan pada tanah berpasir memerlukan
pupuk K dalam jumlah yang cukup, karena pada tanah jenis tersebut K di
fiksasi oleh mineral liat sehingga K tercuci kelapisan bawah karena K
sangat mobil.
Pada tanaman padi, sebagian hara K dapat digantikan oleh jerami padi
yang dikembalikan sebagai pupuk organik. Kadar K dalam jerami umumnya
1 % sehingga dalam 5 ton jerami terdapat sekitar 50 kg K setara dengan
pemupukan 50 kg KCl/ha. Pengembalian jerami dalam bentuk segar maupun
dikomposkan di lahan sawah harus digalakkan, karena selain mengandung
unsur K juga mengandung unsur hara lain seperti N, P, Ca, Mg dan unsur
mikro, hormon pengatur tumbuh serta asam-asam organik yang sangat
berguna bagi tanaman. Penambahan jerami dan bahan organik lain dapat
meningkatkan kadar bahan organik tanah dan keragaman hayati/biologi
tanah yang secara tidak langsung dapat meningkatkan dan mengefisienkan
ketersediaan unsur hara bagi tanaman. (Balai Penelitian Tanah, 2005)

Penetapan status K tanah
1) Sebanyak ? sendok spatula contoh tanah uji atau 0,5 cm tanah yang
diambil dengan syringe (spet) dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
2) Tambahkan 2 ml Pereaksi K-1, kemudian diaduk hingga homogen dengan
pengaduk kaca,
3) Tambahkan 1 tetes Pereaksi K-2, dikocok selama 1 menit,
4) Tambahkan 1 tetes Pereaksi K-3, dikocok sampai merata,
5) Diamkan selama + 10 menit,
6) Bandingkan warna kuning yang muncul pada larutan jernih di
7) permukaan tanah dengan bagan warna K tanah.
8) Rekomendasi pupuk K (KCl kg/ha) untuk padi sawah varietas setara
IR-64 atau yang mempunyai potensi hasil 5-7 t GKG/ha pada status K
tanah rendah, sedang dan tinggi ditetapkan dalam table 8.

Tabel 8. Acuan Dosis Pemupukan K (KCl Kg/ha) Pada Padi Sawah*
Kelas Status Hara
K tanah Kadar Hara terekstrak HCl 25%
(mg K2O/100gr) Dosis Acuan Pemupukan K
(Kg KCl/ha)
dengan potensi hasil
+ Jerami - Jerami
5 t/ha 6 t/ha 5 t/ha 6 t/ha
Rendah
< 20 50 75 100 125
Sedang
10-20 0 0 50 75
Tinggi
>20 0 0 50 75
Jika yang ditanam adalah padi hibrida atau Vatietas Unggul Tipe Baru
(VUTB) dengan potensi hasil sebesar > 7 t GKG/ha maka rekomendasi
pupuk KCl harus dikalikan dengan faktor koreksi sebesar 1,2 (dengan
asumsi potensi hasil padi hibrida atau VUTB 20% lebih tinggi dari
Varietas Unggul Biasa /VUB).

* Sumber : Petunjuk Penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah, Balai
Penelitian Tanah, 2005

Pemberian pupuk K (KCl) dilakukan dua kali sebagai pupuk dasar (5-7
HST) dan saat primordia (38 ? 42 HST). Pemberian pupuk KCl juga
dipengaruhi oleh asupan jerami pada tanah sawah. Tiap kenaikan target
hasil 1 ton ditambahkan KCl 25 Kg/ha.

3.3. Kendala Penggunaan dan Pemecahan Masalah
Penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)
sebagai alat Bantu untuk menentukan takaran pemupukan sesuai kebutuhan
tanaman padi, pada prinsipnya dapat diterapkan di tingkat petani,
tidak hanya sebatas peneliti maupun petugas pertanian dalam hal ini
penyuluh pertanian. Bagan Warna Daun merupakan alat yang mudah untuk
digunakan, murah serta bisa diterima petani.
Keterbatasan penggunaan Bagan Warna Daun dipengaruhi oleh penentuan
pengelompokan varietas, populasi tanaman, radiasi matahari antarmusim,
status hara tanah dan tanaman, serta cekaman biotik dan abiotik yang
berpengaruh pada warna daun. Selain itu Bagan Warna Daun tidak dapat
digunakan pada tanah yang kahat Sulfur (S) dan Phospat (P). (Wahid, 2003)
Kendala penggunaan tersebut dapat diatasi bila petani diberikan
pelatihan teknis penggunaan Bagan Warna Daun oleh lembaga yang
berwenang, sementara penggunaan BWD pada tanah kahat S dan P dilakukan
setelah masalah kahat tersebut diatasi terlebih dahulu. Penggunaan BWD
untuk menentukan kebutuhan hara N bagi tanaman padi sawah merupakan
pendekatan yang paling murah saat ini dibandingkan bila melakukan uji
serapan hara N oleh tanaman melalui laboratorium. Selain biaya yang
mahal, waktu yang diperlukan pun tidak sebentar.
Pemanfaatan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk menentukan takaran
pemupukan P dan K memiliki beberapa kendala teknis : larutan pereaksi
terbatas, masa kadaluarsa 1-1,5 tahun, sample tanah yang dapat diuji
terbatas dimana satu unit PUTS hanya dapat menganalisa 50 contoh
tanah. Selain itu Perangkat Uji Tanah Sawah ini hanya dapat digunakan
pada tanah sawah mineral, sementara untuk tanah sawah pasang surut
(sawah gambut dan sulfat masam) tidak bisa digunakan (Balai Penelitian
Tanah, 2005).
Namun demikian, alat Perangkat Uji Tanah Sawah ini dapat digunakan di
lapangan baik oleh petugas pertanian maupun oleh para petani langsung.
Selain cara penggunaannya yang mudah, hasil rekomendasinyapun dapat
segera diperoleh, sehingga petani dapat menentukan takaran pemupukan P
dan K dalam waktu yang singkat.
Penggunaan perangkat uji tanah sawah merupakan pendekatan yang lebih
mudah, murah dan cepat dalam menentukan takaran pemupukan P dan K pada
tanah sawah, sehingga petani dalam menggunakan pupuk P (SP-36) dan K
(KCl) dapat lebih tepat takarannya sesuai kondisi hara tanah dan
kebutuhan tanaman.
Akses petani untuk memiliki Perangkat Uji Tanah Sawah ini dapat
dijembatani oleh pemerintah daerah setempat dalam hal ini Dinas
Pertanian, ataupun melalui penyediaan Perangkat Uji Tanah Sawah
dimasing-masing Balai Penyuluh pertanian, yang nantinya digunakan
bersama-sama kelompok tani untuk menganalisa kandungan hara P dan K
pada lahan-lahan sawah milik kelompok tani setempat. Selain itu perlu
adanya pelatihan penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah bagi petani dan
petugas pertanian dalam hal ini penyuluh pertanian oleh instansi terkait.
Keterbatasan penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah
Sawah (PUTS) hanya masalah teknis yang mudah untuk dipecahkan bersama,
bila ada kemauan dari semua pihak yang terkait. Pemupukan berimbang
berdasarkan alat ukur Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah
Sawah (PUTS) di lihat dari sisi ekonomi dapat menekan biaya pemupukan
sebagaimana terlihat dalam table analisa biaya pemupukan yang
sederhana berikut :

Tabel. 9. Perbandingan Biaya Pemupukan N, P dan K berdasarkan dosis
Anjuran dan Berdasarkan penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) serta
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).

Pupuk Yang Digunakan Harga (Rp/Kg) Total Biaya
(Rp/Kg)
Takaran Anjuran (Kg/ha)
Urea 250 1,200 300,000
SP-36 100 1,400 140,000
KCl 50 2,500 125,000
Total Pemupukan 400 565,000

Takaran Berimbang (Kg/ha)
Urea pada BWD = 4 150 1,200 180,000
SP-36 pada Status P Sedang. 100 1,400 140,000
KCl pada Status K Sedang + Jerami. 0 2,500 0
Total Pemupukan 250 320,000

Selisih Biaya Pemupukan 245,000

Target Hasil 7 ton/ha GKG 7000 2,000 14,000,000

Berdasarkan perbandingan biaya diatas, penggunaan pupuk Urea, SP-36
dan KCl berdasarkan Bagan Warna Daun dan Perangkat Uji Tanah Sawah
dapat menghemat penggunaan pupuk sebesar 150 Kg/ha atau 38 % dari
penggunaan pupuk berdasarkan anjuran, serta dapat menekan biaya
pemupukan hingga 43 %. Biaya penggunaan pupuk berdasarkan Bagan Warna
Daun dan Perangkat Uji Tanah Sawah untuk menghasilkan 1 kg gabah
sebesar Rp 46,-., lebih rendah dibandingkan biaya menggunakan pupuk
berdasarkan anjuran sebesar Rp 81,-.
Selain itu penggunaan pupuk N, P dan K secara berimbang dapat menekan
kebutuhan pupuk dalam negeri. Hal ini dapat menjadikan produsen pupuk
mampu lebih banyak mengalihkan produknya untuk kebutuhan ekspor
sehingga keuntungannya pun bertambah dan para produsen pupuk negara
bisa memperoleh laba yang lebih besar.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
1. Peningkatan Produktifitas Padi nasional untuk mensukseskan program
Peningkatan Produksi Beras Nasional 2 Juta Ton dapat tercapai dengan
tetap memperhatikan tingkat kesuburan tanah sehingga produktifitas
tanah sebagai salah satu faktor produksi pertanian dapat dipertahankan.
2. Peningkatan produksi pertanian dengan mempertahankan tingkat
produktifitas lahan dapat dilakukan dengan teknologi pemupukan berimbang
3. Teknologi pemupukan berimbang dapat meningkatkan daya guna dan
hasil guna pupuk, mudah dilakukan oleh petani dan menghemat biaya
pemupukan. Selain itu pemupukan berimbang dapat memnuhi kebutuhan hara
dengan spesifik lokasi.
4. Teknologi pemupukan berimbang dilakukan dengan mengetahui terlebih
dahulu kebutuhan hara tanaman serta suplai hara dalam tanah
berdasarkan status hara tanah.
5. Pemupukan berimbang dapat dilakukan dengan menggunakan Bagan Warna
Daun untuk mengetahui Kebutuhan N sehingga dapat ditentukan dosis
anjuran pupuk N berdasarkan kebutuhan tanaman.
6. Pemupukan berimbang P dan K dapat dilakukan dengan menggunakan
Perangkat Uji Tanah Sawah (Paddy Soil Test Kit) sehingga diperoleh
kandungan hara tanah setempat sebagai acuan untuk menentukan takaran
pupuk P dan K yang perlu diberikan.
7. Penggunaan Bagan Warna Daun dan Perangkat Uji Tanah merupakan
pendekatan yang lebih mudah dan murah dalam menentukan takaran
pemupukan sesuai kebutuhan tanaman.

4.2 Saran
1. Perlu adanya kegiatan sosialisasi penggunaan pupuk secara berimbang
dalam rangka meningkatkan efisiensi pemupukan padi sawah.
2. Penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah Sawah
(PUTS) sebagai salah satu alat bantu untuk menentukan takaran pupuk
sesuai kebutuhan tanaman perlu terus diperkenalkan ke petani melalui
Balai penyuluh Pertanian, Penyuluh pertanian dan kontak tani-kontak tani.
3. Pengadaan Bagan Warna Daun untuk tiap kelompok perlu diupayakan.
4. Pengadaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) 1 unit untuk tiap Balai
Penyuluh Pertanian (BPP) perlu segera direalisasikan.
5. Pelatihan penggunaan Bagan Warna Daun dan Perangkat Uji Tanah Sawah
bagi petani dan penyuluh pertanian perlu dilakukan.


















DAFTAR PUSTAKA


Adiningsih J.S, 2004. Pengenalan Peran Unsur Hara Serta Indikasi
Kekurangan dan Kelebihannya Dalam Tanaman. Makalah disajikan dalam
Pelatihan Pemupukan Berimbang dan Pengenalan Perangkat Uji Tanah (Soil
Test Kit). Bogor 26-28 April 2004. Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta.

Adiningsih J.S, 2004. Dinamika Hara dalam Tanah dan Mekanisme Serapan
Hara dalam Kaitannya dengan Sifat-sifat Tanah dan Aplikasi Pupuk.
Makalah disajikan dalam Pelatihan Pemupukan Berimbang dan Pengenalan
Perangkat Uji Tanah (Soil Test Kit). Bogor 26-28 April 2004. Lembaga
Pupuk Indonesia. Jakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007. Petunjuk Teknis
Lapangan, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi,
Pedoman Untuk Penyuluh. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta.

Balai Penelitian Tanah, 2005. Petunjuk Penggunaan Perangkat Uji Tanah
Sawah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan sumberdaya Lahan
Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen
Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Balai Penelitian Tanaman Padi, 2003. Petunjuk Teknis Kajian Kebutuhan
Pupuk NPK pada Padi Sawah Melalui Petak Omisi di Wilayah Pengembangan
PTT. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Republik
Indonesia. Jakarta.

Hardjowigeno S., 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.

Lampiran Permentan No.66/Permentan/OT. 140/12/2006 Tentang : Kebutuhan
dan Harga Eceran tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor
Pertanian Tahun Anggaran 2007. Menteri Pertanian Republik Indonesia,
Jakarta.

Suwono, LY., Krisnadi, dan Mardjuki, 2007. Pengelolaan Hara Spesifik
Lokasi (PHSL) :Suatu Usaha Meningkatkan Efisiensi pemupukan Padi
sawah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Propinsi Jawa Timur. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Republik
Indonesia. Jakarta.

Sarief S., 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian., Pustaka
Buana, Bandung.

Setyorini D., 2004., Peran Uji Tanah dalam Penyusunan Rekomendasi
Pemupukan. Makalah disajikan dalam Pelatihan Pemupukan Berimbang dan
Pengenalan Perangkat Uji Tanah (Soil Test Kit). Bogor 26-28 April
2004. Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta.

Simarmata T., 2007., Berswasembada dan Menjadi Eksportir Beras.
Teknologi Melipatgandakan Produksi Padi dengan Sistem Intensifikasi
Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) (Teknologi Hemat Air,
Bibit dan Pupuk Anorganik. Makalah disampaikan pada Diskusi Ilmiah
tentang Peningkatan Produktifitas Padi Melalui Teknologi Intensifikasi
Padi Secara Aerob Terkendali. Fakultas Pertanian Universitas
Padjadjaran bekerjasama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi,
Bandung.

Surdianto Y. dan Diratmaja A. IGP, 2002. Pengelolaan Tanaman Terpadu
(PTT) Sebagai Pendekatan Inovatif Untuk Meningkatkan Produktivitas dan
Efisiensi Produksi Padi. dalam Monograf Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Propinsi Jawa Barat dengan judul Sistem Usahatani Integrasi
Tanaman-Ternak Di Lahan Sawah. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Taslim H., 2004. Metodologi Demplot Pemupukan Berimbang Berdasarkan
Uji Tanah dan Perannya dalam Alih Teknologi Kepada Petani. Makalah
disajikan dalam Pelatihan Pemupukan Berimbang dan Pengenalan Perangkat
Uji Tanah (Soil Test Kit). Bogor 26-28 April 2004. Lembaga Pupuk
Indonesia. Jakarta.

Wahid AS., 2003. Peningkatan Efisiensi Pupuk Nitrogen Pada Padi Sawah
dengan Metode Bagan Warna Daun. Makalah disajukan dalam Jurnal Litbang
Pertanian 22 April 2003. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Propinsi
Sulawesi Selatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

1 Comment

Reply faiz
6:40 PM on May 3, 2009 
good , yang lain mana nih informasi penyuluhannya....<img alt="big grin" src="http://images.freewebs.com/Images/Smilies/Round/biggrin.gif"
>

Interaksi Anggota


ShoutMix chat widget

Webs Poll

Jam Digital

Kalender

Share on Facebook

Share on Facebook

Suhu di kota Anda

Recent Blog Entries

by fkthljabar | 0 comments
by fkthljabar | 1 comments
by fkthljabar | 1 comments
by fkthljabar | 1 comments